Mei 28, 2026 | Syenare

Samaritanisme: Penjaga Tradisi Iman Tertua di Levant

Samaritanisme: Penjaga Tradisi Iman Tertua di Levant | Garis sejarah Timur Tengah menyimpan kekayaan spiritual yang luar biasa, salah satunya tercermin melalui keberadaan komunitas Samaria. Komunitas ini menganut Samaritanisme, sebuah sistem keyakinan monoteistik Abrahamik yang memiliki keterkaitan historis sangat erat dengan Yudaisme. Kendati sering kali dianggap serupa oleh masyarakat awam karena sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa (YHWH), kelompok ini memiliki jalur teologis dan identitas budaya yang sepenuhnya mandiri.

Keteguhan mereka dalam merawat ritual yang telah berusia ribuan tahun menjadikan Samaritanisme sebagai salah satu jendela hidup paling autentik untuk melihat kembali praktik keagamaan kuno di tanah Kanaan.

Otoritas Tunggal Lima Kitab Musa

samaritanisme-penjaga-tradisi-iman-tertua-di-levant

Satu di antara fondasi utama yang memisahkan Samaritanisme dari tradisi Yahudi arus utama adalah batasan kitab suci mereka. Ketika Yudaisme menerima seluruh kompilasi Alkitab Ibrani (Tanakh), orang Samaria secara tegas hanya mengakui Taurat—yaitu lima kitab pertama yang dibawa oleh Nabi Musa.

Kitab suci mereka disalin menggunakan aksara Samaria kuno, sebuah turunan langsung dari alfabet Paleo-Ibrani yang tidak mengalami perubahan ke aksara kotak seperti Ibrani modern. Bagi mereka, hukum Tuhan telah sempurna di dalam Pentateukh tersebut. Oleh karena itu, tulisan para nabi setelah era Musa tidak dianggap sebagai teks yang terinspirasi secara ilahi atau memiliki otoritas hukum.

Gunung Gerizim Versus Yerusalem

Sengketa geografis-spiritual tertua di wilayah tersebut terletak pada penentuan lokasi Bait Allah yang asli. Berbeda dengan pandangan umum yang menunjuk Yerusalem atau Bukit Sion sebagai pusat ibadah, garis keyakinan Samaritanisme menetapkan Gunung Gerizim sebagai episentrum spiritual mereka.

Terletak di dekat kota kuno Sikhem (sekarang Nablus), Gunung Gerizim diyakini oleh orang Samaria sebagai tempat suci yang dipilih langsung oleh Tuhan sejak awal mula. Seluruh bangunan teologi, arah kiblat ibadah, hingga orientasi spiritual harian mereka sepenuhnya tertuju pada puncak gunung batu ini, bukan pada kota Yerusalem.

Keunikan Doktrin dan Praktik Ritual

Karakteristik teologi Samaritanisme bertumpu pada kesederhanaan doktrin yang sangat ketat. Di dalam sistem kepercayaan ini, Nabi Musa dipandang sebagai satu-satunya nabi sejati yang pernah diutus ke dunia. Tidak ada ruang bagi figur nabi-nabi lain setelahnya untuk mengubah atau menambah syariat yang sudah ada.

Keteguhan memegang syariat Musa ini berdampak langsung pada cara mereka menjalankan ritus keagamaan sehari-hari. Misalnya, pada Hari Sabat, mereka menerapkannya dengan tingkat ketat yang sangat tinggi, termasuk menghentikan total semua aktivitas mekanis demi menjaga kesucian hari tersebut.

Begitu pula dengan perayaan Hari Raya Paskah (Passover), yang dilangsungkan secara kolosal di lereng Gunung Gerizim. Ritual ini melibatkan penyembelihan domba yang mengikuti instruksi tekstual kitab Taurat secara harfiah. Selain Paskah, hari-hari besar lain seperti Shavuot dan Sukkot juga dirayakan dengan cara melakukan ziarah fisik langsung ke puncak gunung suci mereka.

Melalui kombinasi ketat antara isolasi tradisi, penggunaan bahasa kuno, dan kesetiaan pada wilayah geografis suci mereka, penganut Samaritanisme berhasil mempertahankan eksistensi mereka melewati gerhana berbagai imperium besar sepanjang sejarah manusia.

Share: Facebook Twitter Linkedin